Uncategorized

Asuransi Jiwasraya Luncurkan JS Mikro Sahabat

Jakarta – PT Asuransi Jiwasraya (Persero) bersama PT Kioson Komersial Indonesia (Kioson), perusahaan O2O e-commerce berbasis aplikasi, meluncurkan produk Asuransi JS Mikro Sahabat. Sebuah produk asuransi mikro dengan manfaat yang cukup besar. JS Mikro Sahabat ini ditujukan bagi kalangan masyarakat ekonomi menengah ke bawah yang ingin mendapatkan proteksi asuransi dengan biaya yang murah. Cukup dengan membayar premi sebesar Rp 50 ribu peserta akan mendapatkan manfaat asuransi selama 1 (satu) tahun berupa:

Meninggal dunia bukan karena kecelakaan, dibayarkan sebesar Rp. 5.000.000,-. Meninggal dunia karena kecelakaan, dibayarkan sebesar Rp. 30.000.000,-. Dan biaya evakuasi meninggal dunia karena kecelakaan, maksimal dibayarkan sebesar Rp.2.500.000,- Selain berpremi rendah, keunggulan lain dari produk JS Mikro Sahabat ini diantaranya mudahnya persyaratan yang diberlakukan yaitu cukup dengan mengisi data diri (nama lengkap, umur, nomor KTP, nomor Handphone) dan masih dalam rentang usia 17 tahun hingga 69 tahun.

Disamping itu, pembayaran atas klaim asuransi terbilang cukup cepat yaitu selama maksimal 10 hari kerja setelah prosedur dan syarat pengajuan klaim diterima secara lengkap dan klaim disetujui di PT Asuransi Jiwasraya (Persero). “Peluang pasar asuransi masih sangat besar mengingat sampai dengan saat ini masih banyak masyarakat terutama kelas ekonomi menengah ke bawah yang membutuhkan jaminan asuransi, namun masih banyak terkendala premi yang cukup tinggi,” ujar Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Hendrisman Rahim di Jakarta Senin (8/5).

Berdasarkan data AAJI (Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia), saat ini masih ada sekitar 93 persen dari total penduduk Indonesia sekitar 255 juta jiwa yang belum terjangkau oleh pasar asuransi jiwa. “Dengan memperkenalkan JS Mikro Sahabat Mikro Sahabat melalui Kioson, masyarakat kelas menengah ke bawah akan lebih mudah menjangkau serta mengambil manfaat produk asuransi, apalagi bagi mereka yang memiliki kesulitan dalam segi akses. Melalui kerjasama dengan Kioson, masyarakat bisa menikmati layanan JS Mikro Sahabat yang dapat ditemukan di warung, toko kelontong maupun kios yang telah menjadi mitra Kioson,” jelasnya.

Untuk mendapatkan produk asuransi ini, masyarakat atau calon nasabah hanya perlu mendatangi Mitra Kioson (warung, kios, toko klontong yang memiliki logo atau tanda Kioson). Selain itu, kerjasama ini juga sekaligus memberikan peluang baru bagi Kioson. Sebab dengan adanya produk asuransi, produk-produk yang disediakan oleh Kioson semakin lengkap.

Seperti yang diungkapkan oleh CEO dan Co-Founder Kioson Jasin Halim, penunjukan Kioson sebagai rekanan dalam pendistribusian produk JS Mikro Sahabat, dinilai sangat pas, start-up O2O e-commerce, memiliki model bisnis yang berbeda dengan yang lainnya. “Kioson yang selama ini menjadi menjadi mitra bisnis para pelaku UKM dalam mengembangkan usahanya, tumbuh menjadi perusahaan e-commerce yang memiliki jaringan luas, terutama di kota lapis kedua. Sehingga kerjasama antara PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dan PT Kioson Komersial Indonesia, akan menguntungkan bagi keduanya,” ucapnya. Saat ini produk JS Mikro Sahabat sudah tersebar secara nasional dan secara khusus berada di jaringan mitra Kioson yang kuat di kota lapis kedua. (Juna)

Desa Pandanwangi Soko, Sentra Kerajinan Tangan dari Bambu

Geliat industri di Desa Pandanwangi Kec. Soko Kab. Tuban menjadi sentra kerajinan sangkar burung di Kecamatan Soko. Hal tersebut nampak pada banyaknya jumlah pengerajin mencapai ratusan lebih yang tersebar pada satu desa Tersebut.

“Kreatifitas warga Desa Pandanwangi bagus, berbahan limbah kayu jati dapat dijadikan produk bernilai ekonomi cukup tinggi,” Selain itu juga pandanwangi memproduksi Dingklik (Tempat Duduk) Panjang yang keseluruhan bahannya di buat dari bambung. Produk Dingklik ini sudah tersebar di seluruh wilayah di indonesia karena kwalitas dan nilai fungsinya yang sangat ekonomis, Produk dingklik ini dapat di temukan di kota kota misalnya di kedai kedai warung kopi baik di kota Tuban sendiri maupun di Kab. Bojonegoro yang mana hampir keseluruhan tempat nongkrong Kopian di Bojonegoro banyak menggunakan produk ini.

Produk dingklik ini sangat mempunyai nilai ekonomis yang tinggi disamping manfaatnya untuk bersantai bareng keluarga di rumah juga bisa. Ada banyak motif dingklik yang terbuat dari bahan banbu ini yang di produski oleh Masyarakat Pandanwangi ini dengan jaminan kwalitas dan nilai guna yang tinggi. Bila anda berniat untuk menghiasi Teras rumah anda dengan Produk kerajinan tangan ini sangatlah cocok untuk keluarga anda bersantai dirumah.

Bila anda berencana untuk Membeli maupun memesan produk kerajinan tangan Dingklik ini anda dapat langsung Datang ke Desa Pandanwangi Kec. Soko Kab. Tuban yang mana langsung bertatap muka dengan Para pengrajin Kerajinan tangan tersebut.

Data Kecamatan Soko pada tahun 2013, jumlah pengerajin sangkar dari Desa Pandanwangi tercatat 168 orang. Sementara pada 2014 menurun sekitar 20 persen menjadi 134 orang yang menggeluti usaha kerajinan sangkar burung.

Penyerapan tenaga kerja selama dari tahun 2013 dan 2014 terbilang cukup tinggi. Pada tahun 2013 tenaga kerja yang terserap pada pembuatan kerajinan sangkar burung mencapai 197 dan tahun 2014 menyerap 134 tenaga kerja.

Sangkar burung produksi warga Desa Pandan wangi tersebut sudah dipasarkan di beberapa daerah di sekitar Tuban. Produksi sangkar dalam satu minggu mencapai ratusan baik sangkar kasar atau belum diperhalus dan sangkar halusan.

Bila anda berencana untuk membeli sangkar burung dalam jumlah banyak maupun sedikit anda dapat langsung pergi ke Desa Pandanwangi Kec. Soko kab. Tuban dan langsung bertatap muka dengan peng

KANDUNGAN SUATU BUDAYA

Kandungan utama budaya sering digunakan sebagai pendekatan oleh pemasar dalam menganalisis budaya untuk melakukan terobosan pemasaran. Pemasar biasanya berfokus pada nilai-nilai dominan dalam suatu masyarakat. Kandungan suatu budaya ( content of culture) adalah kepercayaan, sikap, tujuan, dan nilai-nilai yang dipegang oleh sebagian besar masyarakat dalam suatu lingkungan yang menyangkut aspek-aspek lingkungan sosial ( ragam agama dan kepercayaan, ragam partai politik , dsb) dan fisik ( produk, peralatan , gedung dan bangunan dsb) dalam masyarakat tertentu.

Tujuan dalam analisis budaya adalah untuk memahami kandungan makna dari sudut pandang konsumen yang menciptakan dan menggunakannya. Misalnya pengibaran bendera memiliki tanggapan rasa patriotisme dan semangat juang, diskon 50% adalah memiliki tanggapan “daya tarik” yang heboh, antri lebih dari 30 menit bagi sebagian orang Amerika membuat frustasi dan marah, namun di bagian masyarakat Indonesia merupakan hal yang biasa saja, sehingga ada slogan” budayakan antri……yang ada gambarnya bebek berbaris rapi…).

Seperti halnya makna berjabat tangan ketika menyapa menjadi simbol selamat datang dan persahabatan oleh sebagian besar masyarakat dunia, meskipun ada sebagian yang melakukannya dengan membungkukkan badan atau mencium. Perbedaan makna budaya bahkan dapat diamati dari lingkungan berbelanja apakah toko diskon yang konsumen bisa memilih sendiri  atau toko spesial yang dilengkapi dengan pelayanan pribadi penuh dari pramuniaga dan fasilitas belanja yang mewah.

Akhirnya strategi pemasaran juga memiliki makna yang dipercaya bersama, seperti reaksi masyarakat terhadap iklan. Masyarakat Amerika terbiasa mengungkap iklan dengan secara langsung dan terbuka, bahkan dianggap terlalu ‘fulgar’ atau emosional oleh sebagian masyarakat di negara lain. Atau promosi diskon dan penjualan murah, di sebagian masyarakat bisa dianggap positif tetapi bagian masyarakat lain bisa berbeda dan justru sering mendapat reaksi negatif karena adanya anggapan bahwa barang yang didiskon pasti tidak berkualitas dan barang sisa, cuci gudang atau barang yang tidak laku.

Sehingga pemasar harus hati-hati menangkap makna budaya dari produk dan merek yang akan dipasarkan dengan melihat lingkungan budaya yang melekat pada target pasar yang akan dipilihnya.

MITOS DAN RITUAL KEBUDAYAAN

Setiap masyarakat memiliki serangkaian mitos yang mendefinisikan budayanya. Mitos adalah cerita yang berisi elemen simbolis yang mengekspresikan emosi dan cita-cita budaya. Misalnya mitos mengenai binatang yang mempunyai kekuatan ( Lion King ) atau binatang yang cerdik ( Kancil ) yang dimaksudkan sebagai jembatan antara kemanusiaan dan alam semesta. Ada mitos pewayangan yang dapat diangkat dalam membuat strategi penentuan merek suatu produk, seperti tokoh Bima dalam produk Jamu kuat “ Kuku Bima Ginseng”. Sehingga pemasar dituntut kreatif menggali mitos agar bisa digunakan sebagai sarana menyusun strategi pemasaran tertentu.

Ritual kebudayaan merupakan kegiatan-kegiatan rutin yang dilakukan oleh kelompok masyarakat. Ritual Budaya sebagai urutan-urutan tindakan yang terstandarisasi yang secara periodik diulang, memberikan arti dan meliputi penggunaan simbol-simbol budaya ( Mowen, 1995).

Ritual budaya bukan sekedar kebiasaan yang dilakukan seseorang, tetapi hal ini dilakukan dengan serius dan formal, yang memerlukan intensitas mendalam dari seseorang. Kebiasaan sering tidak serius, kadang tidak pasti dan berubah saat ada stimulus berbeda yang lebih menarik. Seringkali ritual budaya memerlukan benda-bendayang digunakan untuk proses ritual, dan inilah yang bisa dibuat oleh pengusaha menjadi peluang , seperti acara ulang tahun yang biasanya ada lilin, roti tart, balon, permen, sirup, dan lain-lain. Pesta perkawinan merupakan ritual budaya juga, sehingga dapat menjadi peluang untuk ‘wedding organizer’ dan persewaan gedung, serta peralatan dan perlengkapan pesta lainnya. Strategi iklan juga dapat dikaitkan dengan ritual budaya seperti pada tema-tema perkawinan yang menonjolkan hadiah ‘berlian’ untuk pengantin perempuan, dan produk sarung untuk ritual keagamaan dan ibadah.

Simbol kebudayaan juga merupakan representasi tertentu dari budaya , secara umum apa yang dipakai dan dikonsumsi oleh seseorang akan mencerminkan budayanya. Perusahaan dapat menggunakan nilai-nilai simbolis untuk merek produknya , misalnya perusahaan otomotif Toyota memberi nama Kijang untuk kendaraan dengan penumpang keluarga, secara simbolis Kijang ‘ adalah binatang yang mempunyai kemampuan lari yang sangat cepat dan lincah”.Sementara perusahaan lain Mitsubishi menciptakan ‘Kuda’. Simbol juga dapat ditunjukkan dengan warna, seperti warna hitam mempunyai arti formal, biru sejuk, putih artinya suci, merah simbol berani dsb. Sehingga pemasar menggunakan warna sebagai dasar untuk menciptakan produk yang berkaitan dengan kebutuhan simbolis.

BUDAYA DAN KONSUMSI

Produk mempunyai fungsi, bentuk dan arti . Ketika konsumen membeli suatu produk mereka berharap produk tersebut menjalankan fungsi sesuai harapannya, dan konsumen terus membelinya hanya bila harapan mereka dapat dipenuhi dengan baik. Namun, bukan hanya fungsi yang menentukan keberhasilan produk . Produk juga harus memenuhi harapan tentang norma, misalnya persyaratan nutrisi dalam makanan, crispy (renyah) untuk makanan yang digoreng,   makanan harus panas untuk ‘steak hot plate’ atau dingin untuk ‘ agar-agar pencuci mulut’.Seringkali produk juga didukung dengan bentuk tertentu untuk menekankan simbol fungsi seperti ‘ kristal biru’ pada detergen untuk pakaian menjadi lebih putih. Produk juga memberi simbol makna dalam masyarakat misal “ bayam” diasosiasikan dengan kekuatan dalam film Popeye atau makanan juga dapat disimbolkan sebagai hubungan keluarga yang erat sehingga resep turun temurun keluarga menjadi andalan dalam memasak, misal iklan Sasa atau Ajinomoto. Produk dapat menjadi simbol dalam masyarakat untuk menjadi ikon dalam ibadat agama.

Budaya merupakan sesuatu yang perlu dipelajari, karena konsumen tidak dilahirkan spontan mengenai nilai atau norma kehidupan sosial mereka, tetapi mereka harus belajar tentang apa yang diterima dari keluarga dan teman-temannya. Anak menerima nilai dalam perilaku mereka dari orang tua , guru dan teman-teman di lingkungan mereka. Namun dengan kemajuan zaman yang sekarang ini banyak produk diarahkan pada kepraktisan, misal anak-anak sekarang lebih suka makanan siap saji seperti Chicken Nugget, Sossis, dan lain-lainnya karena kemudahan dalam terutama bagi wanita yang bekerja dan tidak memiliki waktu banyak untuk mengolah makanan.

Kebudayaan juga mengimplikasikan sebuah cara hidup yang dipelajari dan diwariskan, misalnya anak yang dibesarkan dalam nilai budaya di Indonesia harus hormat pada orang yang lebih tua, makan sambil duduk dsb. Sedangkan di Amerika lebih berorientasi pada budaya yang mengacu pada nilai-nilai di Amerika seperti kepraktisan, individualisme, dsb.

Budaya berkembang karena kita hidup bersama orang lain di masyarakat. Hidup dengan orang lain menimbulkan kebutuhan untuk menentukan perilaku apa saja yang dapat diterima semua anggota kelompok. Norma budaya dilandasi oleh nilai-nilai, keyakinan dan sikap yang dipegang oleh anggota kelompok masyarakat tertentu. Sistem nilai mempunyai dampak dalam perilaku membeli, misalnya orang yang memperhatikan masalah kesehatan akan membeli makanan yang tidak mengandung bahan yang merugikan kesehatannya.

Nilai memberi arah pengembangan norma, proses yang dijalani dalam mempelajari nilai dan norma disebut ”sosialisasi atau enkulturasi”. Enkulturasi menyebabkan budaya masyarakat tertentu akan bergerak dinamis mengikuti perkembangan zaman. Sebaliknya, bila masyarakat cenderung sulit menerima hal-hal baru dalam masyarakat dengan mempertahankan budaya lama disebut Accultiration.

Budaya pada gilirannya akan mempengaruhi pengembangan dalam implikasi pemasaran seperti perencanaan produk, promosi ,distribusi dan penetapan harga. Untuk mengembangkan strategi yang efektif pemasar perlu mengidentifikasi aspek-aspek penting kebudayaan dan memahami bagaimana mereka mempengaruhi konsumen. Sebagaimana strategi dalam penciptaan ragam produk , segmentasi pasar dan promosi yang dapat disesuaikan dengan budaya masyarakat.

Beberapa perubahan pemasaran yag dapat mempengaruhi kebudayaan, seperti :

  1. Tekanan pada kualitas
  2. Peranan wanita yang berubah
  3. Perubahan kehidupan keluarga
  4. Sikap yang berubah terhadap kerja dan kesenangan
  5. Waktu senggang yang meningkat
  6. Pembelian secara impulsif
  7. Hasrat akan kenyamanan